Sabtu, 25 Juni 2016

Pameran #ISJogja5th: Sketch Stories, Ejawantah Subculture Urbansketch di Jogjakarta


“Sambil menunggu cat airnya kering, bisa sambil keplok-keplok”. Secara tak terduga Pak Agus melontarkan canda kecilnya, seketika seluruh ruangan dipenuhi suara tawa.

Pak Agus begitu tertarik dan senang ketika kami minta untuk mengisi workshop. Yang jadi pertimbangan kami dalam menjatuhkan pilihan pemateri workshop kepada Pak Agus adalah karena beliau cukup produktif mensketsa dan menjelang pameran malah makin sering mengunggah sketsa di akun instagramnya. Beliau pun ternyata cukup nyaman dalam membongkar tips maupun trik penggunaan cat air pada sketsa, yang disambut dengan antusiasnya teman-teman peserta workshop.

Iya saya kesulitan menuliskan suasana akrab dan menyenangkannya workshop urbansketch yang digelar di Loop station Yogyakarta tanggal 23 April 2016. Tapi kata kuncinya adalah: sketsa, menggambar, tinta, cat air, peralatan gambar dan teman-teman yang hobi atau punya ketertarikan yang sama pada sketsa. Bayangkan jika semua hal ini ada dalam satu tempat dan satu waktu. Semua itu dirangkum oleh IS Jogja pada pameran yang diadakan pada tanggal 17-24 April 2016.

Sketsa acara pembukaan pameran. (karya Urip Tri Hasanah)

2016 adalah tahun kelima Indonesia’s Sketchers Jogja atau biasa disebut IS Jogja mengusung manifesto urbansketch di kota Jogjakarta, sehingga tajuk yang dibawa kali ini adalah Pameran #ISJogja5th: Sketch Stories. Urbansketch adalah sebuah istilah subculture yang cukup muda dan seiring dengan perkembangannya niscaya terjadi diskusi-diskusi, yang hingga kini masih berlangsung. Urbansketch mau tidak mau harus bersinggungan dengan istilah sketch dan livesketch dalam definisi yang sudah mapan.

Live sketch (sketsa langsung) sebagai manifesto yang dibawa Indonesia’s Sketchers bisa dimaknai sebagai metode berkarya dalam bentuk grafis (tentu diawali dengan sketsa) untuk ‘menangkap’ objek secara langsung. Kegiatan live sketching ini menuntut pengerjaan yang lama di suatu lokasi dengan pengamatan yang lebih seksama. Dalam proses berkarya seperti ini terjadi interaksi antara sketcher dengan objek sketsa, mulai dari orang, benda, tumbuhan, hewan, bangunan atau bahkan interaksi juga terjadi dengan perkembangan kota dimana proses sketsa berlangsung. Hal ini tentu meninggalkan cerita-cerita yang berkesan dan beragam bagi sketcher. Maka IS Jogja ingin berbagi kisah live sketching yang dikemas dalam pameran Sketch Stories.
Ide awal pameran Sketch Stories adalah mengemas segala pernak-pernik urbansketch dan memperlihatkan proses belajar sketsa yang perlahan-lahan hingga hasilnya bisa dilihat saat ini. Sekaligus menjawab setiap pertanyaan yang sering dilontarkan setiap orang yang tertarik dengan kegiatan kami. Misalnya: Kenapa tidak dipotret saja? Kalau objeknya difoto trus digambar di rumah, boleh tidak?

Kami meminta peserta untuk mencantumkan cerita di setiap karya, dan hasilnya saya cukup suka. Sangat menarik dan sketsa tersebut terasa sangat personal, sketsa yang tak bisa lepas dari pribadi sketcher-nya. Pameran ini berhasil menempatkan kembali urbansketch ke dalam konsep visual diary maupun travel journal
Di sisi penyelenggaraan, saya sangat terkesan dengan antusiasme teman-teman IS Jogja yang selalu membantu meski bisa dikatakan persiapan kali ini cukup melelahkan. Karena penentuan tanggal pameran yang berlarut-larut dan mundur jauh dari tanggal yang sudah ditentukan pada awal perencanaan. Namun terlihat pengelolaan pameran yang beranjak membaik dan teratur dari pameran sebelumnya. Meski repotnya tetap sama dan beberapa hal harus diatasi secara reflek dan individual.

Persiapan pameran
Dari pameran sebelumnya, Sketch Stories memakai metode yang sedikit berbeda. Langkah awal pada pameran yang lampau, tempat maupun tanggal sudah tersedia. Sedangkan pada Sketch Stories penentuan tempat beriringan dengan persiapan yang lain, seperti perencanaan anggaran, produksi merchandise, penentuan tema dan pemilihan entitas pameran berprioritas tinggi maupun rendah.

Persiapan pun berjalan dan kesulitan pertama muncul, selama 2 bulan Gayuh menjajaki banyak tempat yang potensial untuk pameran. Biaya sewa, lokasi dan proses negosiasi menghambat laju persiapan serta penentuan tanggal pameran. Untuk penentuan tempat pameran karena menyangkut luas maupun bentuk ruang, beberapa kali saya menyanggah pendapat Gayuh. Di bagian ini kadang saya sulit bersepakat dengan Gayuh. Maaf ya.

Biaya sewa tempat yang berat, tarik ulur dengan rencana anggaran. Nana membantu saya menyusun rencana anggaran secara detil dengan alokasi yang tepat. Entah berapa kali saya harus minta Nana untuk optimisasi anggaran. Menambah ini mengurangi itu, coret sebelah sini abaikan bagian itu.

Hasilnya jadi tabel dan angka-angka yang berhasil bikin mata saya lelah. Tak bisa dipungkiri dana yang besar bisa dikatakan faktor penentu mulusnya proses pameran, faktanya dana yang ada saat persiapan cukup minim. Harusnya dari awal saya bilang: “Nana, we gonna do this the old fashioned way. With low budget and maximum effort. “ *Tapi tetep pakai bahasa Jawa sih
Di sisi lain pengaturan dan pencatatan setiap alur belanja pameran dibantu oleh Pipit. Yang sekaligus jadi sopir yang siap mengangkut karya dan segala properti pameran dengan dibantu oleh Rendy. Dan Rendy juga yang telah banyak membantu saat pameran berlangsung maupun kegiatan-kegiatan sebelum pameran. Maaf ya, saya sudah merepotkan.
Saya ucapkan banyak terima kasih kepada Cyndo, Uphie dan Mbak Idho yang telah memproduksi totebag, sketchbook maupun t-shirt. Di tengah tenggat waktu yang sedikit sudah mau meluangkan waktu di sela-sela kesibukan. Dan saya harap Uphie tidak mabok lem saat harus menyelesaikan 30an sketchbook itu sesuai jadwal.
Terimakasih karena sudah membuat benda-benda bagus ini
Terimakasih juga buat Mas Hendra, Mas Erick, Richo atas inisiatif bantuannya, tak terbayang garingnya pameran tanpa bantuan kalian. Terima kasih kepada Mas Septa, Pak Agus, Pak Ikhman, Pak Irwan, Heru, Nur Adhi, Yoela, Rizky dan Nawank. Dan terimakasih untuk semua yang telah membantu, maaf jika ada yang terlewat saya sebutkan.

Kalian lah energi pameran ini.

Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada peserta pameran yang berkenan ikut serta berbagi cerita sketsa. Saya mohon maaf jika ada kesalahan, semoga kami bisa menebus kesalahan tersebut. Terima kasih juga bagi pengunjung pameran atas kedatangan maupun apresiasinya.

Selepas pameran ini, selepas ajang saling berbagi cerita sketsa dan tehniknya agaknya kita bisa melanjutkan proses berkarya yang lebih menggembirakan. Mengagumi sketsa yang lain sambil menantang diri sendiri untuk menciptakan karya yang setara maupun melampauinya. 

Urbansketch merupakan gagasan yang dilontarkan oleh Gabriel Campanario karena keinginannya menciptakan dokumentasi akan aktivitas di sekelilingnya dalam karya sketsa. Ini tidak beda dengan musisi yang ingin menciptakan musik, arsitek ingin menciptakan gedung, maupun mekanik yang ingin menciptakan mesin. Tanpa keinginan mencipta dan berkarya, bisa dibayangkan garingnya hidup manusia.

Sekilas saya teringat dengan roman “Arus Balik” karangan Pram, disana Rama Cluring berkata:

“Kehidupan dan geloranya, dipimpin oleh cipta dan dimeriahkan oleh kerya mencipta.”


Salam Sketsa dan Terima kasih

Alaik Azizi





*Hasil dokumentasi pameran #ISJogja5th: Sketch Stories bisa dilihat di sini
*Tulisan ini juga dimuat di blog IS Jogja


2 komentar:

evi lestari mengatakan...

alhamdulilah saya ikut seneng bacanya diberi kesempatan untuk belajar seni

alaik azizi mengatakan...

Makasih mbak Evi sudah berkenan membaca postingan ini. Silakan bergabung dengan kegiatan IS Jogja, jika kamu berdomisili di Jogja.
makasih.